MGMP TIK SMP/MTs KOTA BALIKPAPAN

Komunitas Guru Komputer SMP Kota Balikpapan ==> MENCERDASKAN GURU

PERAN GURU DALAM REFORMASI SEKOLAH

Posted by mgmptik on July 24, 2007

Oleh : Mungin Eddy Wibowo

LULUSAN bermutu dan berahlak mulia hanya dapat dihasilkan oleh sekolah bermutu. Reformasi sekolah merupakan konsep perubahan ke arah peningkatan mutu pendidikan dalam konteks manajemen mutu berbasis sekolah (MPMBS). Reformasi itu harus mulai diterapkan untuk merespon kondisi pendidikan dewasa ini yang makin terpuruk.

Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991) menunjukkan, manajemen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan pembenahan manajemen di samping peningkatan kualitas guru dan pengembangan sumber belajar. Reformasi diri yang perlu dilakukan sekolah adalah perbaikan proses pendidikan dimulai dari perubahan psikologis, budaya, dan sosial para pengelolanya. Kepala sekolah harus mereformasi diri menjadi kepala sekolah yang kolaboratif, sehingga menumbuhkan iklim sekolah yang demokratis. Guru juga harus menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur. Guru yang masih mengajar atas dasar petunjuk menjadi guru yang berpikir merdeka. Kepala sekolah dan guru penggerak utama terwujudnya reformasi sekolah. Ia adalah main engine dari maju mundurnya kehidupan sekolah. Sekolah harus dapat mewujudkan proses pembelajaran yang efektif. Pembelajaran efektif ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa aktif. Pembelajaran bukan sekadar memorasi bukan pula sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, tetapi lebih pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktikkan oleh siswa. Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis pada siswa. Pembelajarn efektif juga lebih menekankan bagaimana siswa mampu belajar cara belajar. Melalui kreativitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Dengan sendirinya perwujudan pembelajaran efektif akan memberikan kecakapan hidup kepada siswa. Sekolah harus dapat mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan tertib. Lingkungan yang aman dan tertib tidak selalu identik dengan keberadaan kondisi fisik beserta fasilitasnya, tetapi mengacu kepada tata hubungan sosial dan psikologis di dalam lingkungan sekolah. Sekolah harus dapat menumbuhkan budaya mutu. Budaya mutu merupakan sikap yang harus tertanam dalam sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Sekolah yang menerapkan MPMBS harus mempunyai harapan untuk meningkatkan prestasi siswa dan sekolah. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai prestasi maksimal. Siswa juga mempunyai motivasi meningkatkan diri untuk berprestasi. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah dinamis untuk selalu menjadi lebih. Penerapan MPMBS sebagai wujud reformasi sekolah adalah sebuah perubahan, dan perubahan itu tidak akan pernah berhenti. Karena itu, sekolah yang akan menerapkan MPMBS harus menyiapkan diri untuk selalu berubah secara sistematis ke arah peningkatan mutu. Pada akhirnya, perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. Memberi Layanan Lulusan sekolah yang bermutu hanya dapat dihasilkan apabila sekolah melaksanakan fungsinya dengan benar. Ini berarti sekolah dituntut mampu memberikan layanan pembelajaran berkualitas dan memuaskan kepada guru, kepala sekolah, staf tata usaha, orang tua siswa dan komponen sekolah lainnya. Agar sekolah mampu berfungsi baik perlu dikembangkan pendidikan berwawasan khusus. Pendidikan berwawasankhusus bertujuan mengakomodasikan kebutuhan masyarakat dan atau dunia kerja serta kebutuhan siswa. Ini berarti lulusan yang dihasilkan akan memiliki kemampuan akademik dan kecakapan khusus yang mengacu kepada standar lokal, nasional, maupun internasional. Untuk dapat mewujudkan reformasi sekolah dan mutu pendidikan, diperlukan profil profesi guru (1) memiliki kepribadian matang dan berkembang, (2) penguasaan ilmu, (3) keterampilan membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (4) mengembangkan profesi berkelanjutan. Efektivitas proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas sangat ditentukan oleh kompetensi guru, disamping faktor lain seperti anak didik, lingkungan, dan fasilitas. Guru tidak hanya memerankan fungsi sebagai subyek yang mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan juga melakukan tugas-tugas sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam proses belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk dapat menjalankan tugas-tugas secara efektif dan efisien para guru harus memiliki kompetensi tertentu. Sebagai “instruktur leader” guru harus memiliki sepuluh kompetensi, yakni mengembangkan kepribadian, menguasai landasan kependidikan, menguasai bahan pengajaran, menyusun program pengajaran, melaksanakan program pengajaran, menilai hasil dan proses belajar-mengajar, menyelenggarakan proram bimbingan dan konseling, menyelenggarakan administrasi sekolah, kerjasama dengan sejawat dan masyarakat, dan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluapn pengajaran. Kecerdasan Emosional Kepala sekolah dan guru serta warga sekolah lainnya harus menjadi learning person, seseorang yang senantiasa berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga akan menjadi kepala sekolah dan guru yang berkualitas. Peningkatan dan pengembangan kualitas kepala sekolah dan guru adalah proses kontekstual dan futuristik, sehingga pengembangannya melalui pendidikan bukan sebatas menyiapkan kepala sekolah dan guru yang menguasai pengetahuan dan keterampilan, melainkan manusia yang mampu, mau dan siap belajar sepanjang hayat. Keberhasilan dan prestasi kerja yang dicapai oleh kepala sekolah dan guru tidak semata-mata ditentukan kecerdasan emosional tapi juga ketekunan, komitmen, motivasi, kesungguhan, disiplin dan etos kerja, kemampuan berempati, berinterelasi dan berintrarelasi. Semua unsur tersebut dalam konsep Daniel Goleman (1996) dikemas ke dalam apa yang disebut dengan kecerdasan emosional. Jadi kecerdasan emosional merupakan salah satu indikator kebermutuan kepala sekolah dan guru.

Mutu pendidikan akan dapat diwujudkan bilamana sekolah melakukan reformasi diri, yaitu perbaikan proses pendidikan yang dimulai dari perubahan psikologis, budaya, dan sosial para pengelola. Perubahan paradigma proses pembelajaran dari teaching menjadi learning merupakan tuntutan bagi guru agar dapat meningkatkan mutu sebagai salah satu wujud terjadinya perubahan di kelas dan di sekolah. (33)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: