MGMP TIK SMP/MTs KOTA BALIKPAPAN

Komunitas Guru Komputer SMP Kota Balikpapan ==> MENCERDASKAN GURU

Guru KKPI (Satu) Korban Kurikulum 2013

Posted by mgmptik on February 21, 2014

Perkembangan teknologi saat ini sangat pesat. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir sepanjang pengamatan saya teknologi informasi menguasai dari sebagian waktu hidup manusia di dunia ini. Mulai dari phone seluler, komputer, internet, gadget. Teknologi itu dapat dipelajari dengan sangat mudah, karena sangat aplikatif. Seorang anak kecil yang belum tahu bahasa IT pun begitu mudahnya dalam mengoperasikan dan menggunakannya.

Penguasaan IT seseorang bisa dilakukan dengan cara autodidak maupun dengan melalui membaca, dan bahkan melalui kursus dan jalur pendidikan. Melalui autodidak biasanya akan menemukan hal-hal baru yang mungkin selama ini tidak dipelajari oleh dunia pendidikan. Hal itu sungguh sangat luar biasa, karena itulah penemuan. Namun apakah dari hasil penemuan itu mereka bisa mempertanggungjawabkan secara positif, jika tidak dibekali dengan pengetahuan moral dan etika dalam dunia IT. Dalam kursuspun begitu juga. Untuk kursus biasanya adalah mengedepankan keterampilan dari seseorang dalam penguasaan IT. Istilah jawanya dijujug (=langsung pada pokok permasalahan). Nah di sinilah tidak ditemukan cara-cara secara sistematis dalam penguasaan IT. Tahap-tahap yang harus dilewati ketika melakukan sebuah pengerjaan produk belum tentu bisa ditemukan. Meskipun pihak pemberi materi juga memberikan sistematika itu. Sedangkan pembelajaran di bangku sekolah, pada jalur pendidikan, inilah mungkin yang diperlukan dalam penguasaan IT. Sekolah akan menjadi dasar utama dalam pendidikan IT bagi seseorang (baca= pelajar) dalam mempelajari ilmu IT selanjutnya. Karena di sekolah inilah, diberikan oleh guru ilmu dasar IT, pembelajaran bertahap dalam penguasaanya. Terutama dalam hal pembelajaran internet. Hal ini dimaksudkan agar dalam menguasainya tetap ada etika-etika yang harus ditaati. Jadi tidak ada mall pendidikan dalam penguasaan. Kasus penyadapan, pembobolan bank, yang bersumber dari penguasaan IT diharapkan tidak terjadi. Karena di sekolah oleh guru telah diajarkan berbagai etika moral dalam penguasaan teknologi.

Pelajaran komputer di sekolah sebelum kurikulum 2013 secara umum disebut mata pelajaran KKPI pada SMK, dan SMP. TIK pada SMA. Namun dalam perkembangan kurikulum, pada kurikulum 2013 ini pelajaran tersebut di hilangkan. Lebih parahnya lagi ada sebagian guru yang sebelumnya mengajar mata pelajaran ini diminta untuk mengajar bidang lain, contohnya keterampilan, kewirausahaan, dsb. Kalau dilihat dari segi disiplin ilmu, guru komputer tentu sangat kesulitan dalam melakukan adaptasi terhadap mata pelajaran baru itu.

Belum lagi masalah sertifikasi. Ada wacana ditahun 2015, seluruh guru tersertifikasi harus linier dalam pembelajaran dengan ijazah S1 nya. Bagi guru yang tidak linier harus kuliah lagi menyesuaikan mata pelajaran yang diampu, dan mata pelajaran yan ada pada kurikulum 2013. Jika tidak, maka akan melakukan sertifikasi ulang. Hal ini merupakan permasalahan sendiri. Apakah akan semudah membalikkan tangan, seluruh guru tersertifikasi harus kuliah lagi, dan atau melakukan sertifikasi ulang. Bagi guru yang sudah tersertifikasi jalannya mungkin agak mudah, tinggal melakukan sertifikasi ulang. Namun bagi mata pelajaran yang tidak ada dalam kurikulum 2013, seperti KKPI, TIK, bagaimana dengan nasib mereka. Harus kemana jalan yang harus ditempuh. Jika ada solusi terbaik, sesuai dengan disiplin ilmu yang sudah dipelajari, tentu sangat mudah. Padahal, sepanjang informasi yang saya ketahui, ilmu komputer itu sangat luas, satu rumpun pun belum tentu bisa mencakup pada mata pelajaran tertentu. Sebut saja KKPI belum tentu bisa langsung pindah ke Multi Media, RPL dan TKJ.

Seperti kasus yang di alami teman saya. Dia adalah seorang S.Kom, mengajar KKPI. Karena adanya kurikulum 2013, dengan dihapuskannya mata pelajaran ini, dia yang belum tersertifikasi diajukan dalam pelatihan Simulasi Digital, yang disinyalir sebagai mata pelajaran pengganti dalam kurikulum 2013. Pada akhir tahun 2013 dia telah melaksanakan pelatihan itu dan melakukan uji kompetensi. Nah… giliran tahun 2014 ini dia mengurus PLPG sertifikasi dia terkaget-kaget, karena bidang KKPI sudah dihapus, bidang Simulasi Digital belum ada, dan dalam bidang UKG nya dia masuk dalam bidang Multi Media, dan Maret bulan depan dia harus mengulang UKG awal lagi. Padahal tahun sebelumnya dia sudah ikut UKG on line, yang menyatakan dia masuk dalam peserta PLPG tahun 2014. Masalah yang muncul ada dua: 1) mengulang UKG on line, 2) mata pelajaran berubah menjadi Multi Media. Sungguh dalam posisi yang sulit. Tidak ada kepastian di dalamnya, simulasi digital yang digadang menjadi mata pelajaran pengganti KKPI tidak ada dalam bidang pilihan dalam sertifikasi, “aneh”, yang kedua bidang pilihannya berubah menjadi Multi Media, padahal jika dirunut, mata pelajaran ini merupakan program studi tersendiri, tidak sekedar mata pelajaran yang diajarkan dalam pembelajaran SMK.

Berdasarkan beberapa kasus yang muncul tersebut, seharusnya pemerintah terutama Kemdiknas tentunya lebih bijaksasana dalam menyikapi hal ini. Ketika akan meluncurkan sebuah kebijakan, meluncurkan kurikulum baru, tentunya membutuhkan analisis yang sangat luas dan pertimbangan yang diambil dari akar rumput, yaitu dari bawah, dari guru yang melaksanakan pembelajaran di sekolah-sekolah. Bisa di bayangkan seandainya ijazah S1 tidak linier, mata pelajaran tidak sesuai, lalu siapa yang akan mengajar anak-anak? Tentu akan banyak program studi mungkin bahkan sekolah akan tutup, karena guru yang mengajar tidak linier dengan ijazah S1 nya. Pada khususnya jika pelajaran KKPI ini dihilangkan dan include dalam semua mata pelajaran, tentu tidak akan ada ilmu dasar yang menjadi pijakan para siswa dalam berkecimpung dalam dunia IT. Mereka akan dengan semau-maunya dalam ber IT. Kurang terarah dalam penggunaannya. Selain itu, apakah pemerintah juga akan menjamin bahwa sistem pendidikan tidak akan berubah jika berganti presiden, berganti menteri pendidikan. Jangan-jangan kabinet berubah, sistem pendidikan berubah, kurikulum berubah. Sungguh tidak bisa dibayangkan, jika pendidikan dicampur adukkan dengan dunia politik.

Tulisan ini sekedar bentuk keprihatinan saya pada kurikulum 2013 yang cenderung dipaksakan dalam pelaksanaanya. “mudah-mudahan tidak sekedar proyek saja”. Jika kurikulum itu jadi dilaksanakan secara serentak tentunya harus ada kebijakan-kebijakan yang lebih baik yang diterapkan. Guru lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa juga menerima ilmu dengan baik. Dimungkinkan adanya tinjauan ulang terhadap kurikulum tersebut, sebab dalam pelaksanaanya akan berimbas pada sistem pembelajaran itu sendiri. Jika tidak jadi dilaksanakan, perlu pembenahan kurikulum yang lama agar pelaksanaannya lebih baik lagi.

#Semoga

***
Salam pendidikan, 21 Pebruari 2014

Umi Azzurasantika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: