MGMP TIK SMP/MTs KOTA BALIKPAPAN

Komunitas Guru Komputer SMP Kota Balikpapan ==> MENCERDASKAN GURU

Legacy Abortive Kurikulum Nasional

Posted by mgmptik on March 4, 2014

Kurikulum pendidikan nasional berubah. Berbagai kampanye, iklan, janji-janji, doktrin betapa lezatnya kurikulum ini dimuntahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di berbagai media. Rezim SBY – Boediono ingin mewariskan kurikulum ini sebelum beberapa bulan lagi lengser. Ironisnya kurikulum baru ini tak disiapkan secara akademik, dikerjakan pontang-panting, dan didistribusikan ke seluruh daerah seperti penjual asongan.

Sebagai praktisi pendidikan yang setiap kali berkecimpung dengan kurikulum, pembelajaran di kelas dan pelatih guru, saya merasakan betapa kurikulum baru pendidikan ini seperti dilahirkan secara abortif oleh pemerintah. Rezim ini ingin meninggalkan legacy tetapi sebuah legacy yang abortif. Sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan yang menganalisis dari berbagai sudut pandang juga menyatakan bahwa kurikulum ini amat prematur untuk dapat diimplementasikan. Tak ada alasan akademik untuk menerapkan kurikulum ini selain hanya testimonial sejumlah pihak yang dibayar untuk dipajang sebagai material iklan.

Sayangnya pemerintah tetap saja tak mendengar. Kemdikbud menganggap Kurikulum 2013 (K13) memiliki urgensi tinggi untuk diterapkan. Bahkan dokumen penjelasan untuk diakses publik pun minim, padahal tahun ini anggaran kemdikbud 100% digunakan untuk pengembangan dan implementasi kurikulum. Dalam pembukaan Rembuknas Kemendikbud 2013 Wapres Boediono mengatakan bahwa implementasi Kurikulum 2013 perlu dilaksanakan segera secara bertahap dan jangan molor karena yang rugi generasi muda. Begitu molor pasti ada korban, karena sebagian generasi muda tidak bisa menerima manfaat kurikulum baru. Tampaknya ungkapan Wapres tersebut menjadi landasan utama mengapa Kemendikbud berupaya mati-matian dengan berbagai strategi untuk tetap menerapkan kurikulum baru.

Dalam waktu enam bulan Kemendikbud pontang panting menyiapkan berbagai undang-undang untuk mensyahkan kurikulum baru. Lobi-lobi tampak dilakukan dengan semangat. Berbagai dokumen tentang isi kurikulum harus tersedia untuk dapat diakses oleh sekolah. Buku ajar dan buku guru yang disanggupkan mau tidak mau harus diselesaikan pencetakannya. Pelatihan guru dikelola dan dilakukan super kilat. Kurikulum 2013 diimplementasikan di sekitar 6300 sekolah ex RSBI dan sekolah terakreditasi A yang ditunjuk.

Penyediaan Bahan Ajar
Sebagus apapun buku bahan ajar adalah alat. Di SD buku siswa dan buku guru untuk kelas 1 dan kelas 4 tercetak. Ilustrasi gambarnya terlihat menarik dan beragam. Di balik halaman sampul tertulis dua nama besar tokoh jurnalis dan sastra sebagai penelaah. Pola penulisan sangat berbeda. Penuh ilustrasi gambar dan kesannya tematik integratif. Sekilas buku-buku itu terlihat mudah dipahami. Namun ada yang alpa memahaminya, bahwa buku ajar itu hanya alat bukan tujuan. Jika guru tak paham menggunakannya sebagai alat untuk mencapai tujuan maka sia-sialah.
Buku-buku SMP juga kelar tercetak ketika tahun ajaran 2013/2014 dimulai tahun lalu. Berbagai komentar bermunculun dari para guru yang menggunakan. Keluhan yang banyak terdengar adalah buku guru sulit dipahami, banyak ketidakcocokan antara KI (Kompetensi Inti)- Kompetensi Dasar (KD) dan materi ajar. Adanya buku guru belum membantu implementasi tujuan.
Lain SD dan SMP lain pula SMA dan SMK. Bahan ajar di SMA baru tercetak untuk 3 mata pelajaran saja, yaitu Bahasa Indonesia, Sejarah Indonesia, dan Matematika. Sedangkan untuk pelajaran PPKN, Bahasa Inggris, Penjaskes, Seni budaya, Prakarya dan Kewirausahaan serta mata pelajaran utama seperti Kimia, Bilogi, Fisika, Sosiologi, di SMA dan mata pelajaran utama di SMK tidak berlandaskan kurikulum 2013. Sebuah keputusan pragmatik yang beraroma kebohongan publik. Siapa dapat menjamin siswa kelas X yang sekolahnya ditunjuk mendapat hak pendidikannya secara wajar.

Pelatihan Guru
Dalam perbincangan saya dengan beberapa guru yang sekolahnya ditunjuk menerapkan kurikulum 2013, pelatihan yang mereka peroleh belum menyentuh substansi. Pola pelatihan masih sarat akan informasi-informasi tentang pentingnya kurikulum berubah dan bukan sepenuhnya mentrampilkan mereka menerapkan pola mengajar tematik integratif untuk mencapai kompetensi yang diuraikan dalam rancangan kurikulum.

Jika saat ini guru yang sudah dilatih dan harus menerapkan K13 ternyata kebingungan, sudah bisa kita tebak apa jadinya. Kelas harus tetap berjalan dank arena masih bingung mengetrapkan apa yang diperoleh dari pelatihan, mereka akan kembali pada apa yang membuat kelas berjalan. Tentunya ini bersifat sangat individual kualitasnya. Yang penting kelas jalan terus.
Dari pengalaman saya memberi pelatihan guru selama ini untuk mengenalkan konsep baru seorang pelatih guru harus mampu mencohtohkan bagaimana menghubungkan antara konsep dasar dalam kurikulum sampai bentuk kegiatan dalam kelas. Pelatih harus mampu memodelkan bagaimana konsep tematik, integratif, saintifik, otentik asesmen diterjemahkan dalam kelas ketika pelatihan. Guru diberi kesempatan mencoba dan mendiskusikan bila nantinya menemui kesulitan dalam konteks kelasnya. Dengan demikian baru guru akan mampu membawanya ke kelas dan menyesuaikannya dengan konteks di mana guru mengajar.
Bagaimana proses pelatihan ideal itu terjadi jika kapasitas para pelatih juga masih perlu dipertanyakan. Banyak guru mengeluh karena pertanyaannya kepada pelatih seringkali hanya dijawab dengan kata kunci ‘pokoknya’ kerjakan saja sesuai petunjuk dan pelatihan didominasi oleh penjelasan teori. Pelatihan terkesan dilakukan untuk memenuhi syarat administratif saja. Asumsi dibuatkannya bahan ajar dari pusat akan membantu sama sekali tidak tepat.
Satu yang Menyesatkan
Andalan pemerintah dalam bentuk satu materi ajar siswa berikut buku gurunya dianggap sebagai solusi meringankan bagi guru, padahal sebaliknya. Satu materi untuk semua adalah kesesatan proses mendidik di negara yang tingkat keragamannya begitu banyak seperti Indonesia. Bukan hanya keragaman budaya namun juga keragaman kualitas guru dan fasilitas yang dimiliki sekolah.
Guru dengan konteks kelas di daerah tertentu akan mengalami kesulitan jika materi ajar di buku tidak sesuai dengan konteks kehidupan lingkungan siswa. Kemungkinan ada guru yang kemudian secara cerdas menggantinya, namun dapat saya pastikan lebih banyak guru yang membebek saja. Contohnya, ada bagian dalam buku kelas 1 seperti ini ‘horee, pagi ini sarapan bubur Manado’. Terbayang bagaimana seorang guru di kecamatan Karang Penang di kabupaten Sampang Madura atau di Kecamatan Baso Kabupaten Agam Sumatera Barat menghadapi fenomena seperti ini.
Selain konteks budaya yang beragam, saat ini kompetensi guru dan fasilitas sekolah masih sangat beragam di Indonesia. Dari guru yang mampu mengoperasikan komputer dengan canggih dan selalu meningkatkan kemampuan sampai guru yang lebih senang ke sekolah untuk memenuhi jam mengajar saja. Dari sekolah dengan fasilitas lengkap dengan alat pendingin ruangan sampai sekolah dengan ruang kelas yang papan tulisnya berlubang dan atap bocor. Keadaan geografis negara kita juga menyimpan tantangan alam yang berbeda sehingga ketika proses mendidik tidak berorientasi kearifan lokal maka potensi masalah sosial menjadi lebih tinggi.

Dalam pernyataannya Mendikbud mengatakan K13 dengan kurikulum sebelumnya berbeda. Sebelumnya, kurikulum mengedepankan standar isi, selanjutnya standar proses dan evaluasi. Dalam kurikulum 2013, dipastikan bahwa elemen perubahannya terletak pada standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian.

Jika demikian kompetensi lulusan seperti apakah yang dihasilkan oleh model implementasi yang sudah dilakukan saat ini. Satu contoh, siswa SMK dan SMA kelas X dari hasil kur13 akan lulus tahun 2016. Seperti apakah profil yang diharapkan pemerintah dari siswa yang dijadikan obyek percobaan tersebut? Mereka tidak memiliki kesempatan mengembalikan usianya walau Pemerintah bisa memperbaiki dokumen kurikulum.
Pemerintah wajib melakukan evaluasi secara terbuka dan akademis sebelum melanjutkan implementasi secara luas yang akan melibatkan 208.000 sekolah di semua jenjang, dengan 31 juta siswa, dan 1,3 juta guru, kepala sekolah, serta pengawas. Kalau sekarang baru di 6300an sekolah saja (ex RSBI pula) sudah pontang panting, bagaimana dengan cakupan sekolah yang lebih luas dengan kondisi yang beragam. Ditambah lagi dokumen tidak bisa diakses dengan mudah oleh publik.

Pemerintahan SBY-Boediono yang dalam hitungan bulan akan berakhir, sebaiknya tidak sekedar bangga mengganti kurikulum, tanpa memikirkan dampak secara praktis kepada anak-anak. Dokumen boleh saja dipuja-puja tetapi keberhasilan kurikulum ada di dalam kelas. Keberhasilan proses dalam kelas ada dalam tingkat kecakapan gurunya. Kecakapan guru bergantung pola pelatihan yang dialami. Gagal melatih guru gagal pula inovasi kurikulum baru.

Saya berpikir seperti inikah bangsa besar ini menyiapkan pendidikan untuk generasi masa depannya. Mengembangkan kurikukum yang mendidik manusia Indonesia seutuhnya disiapkan seperti para buruh kerja rodi di jaman penjajahan Belanda. Tak bisakah kita sabar sejenak, merenung, dan melahirkan kurikulum nasional yang lebih visioner dan dapat mengantisipasi adanya perubahan dan keragaman.
Saya khawatir, ganti rezim kurikulum ikut berganti. Jika itu terjadi, lalu untuk apa kita terburu-buru mengimplementasikan K13 yang masih kontroversial ini.

Oleh : Itje Chodidjah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: